Diary of a Madman

Pemimpin yang ideal

Sunday, November 29, 2009 by Gilang Wicaksono

Melihat bapak Hendarso Danuri dan Hendarman Supandji mempertahankan diri dan membela perilaku anak buahnya dalam rapat dengan komisi III DPR RI beberapa minggu lalu membuat banyak orang gregetan, termasuk saya sendiri. Tapi kalo lagi dipikir lagi lebih dalam, lama-lama aku bisa menerima sikap yang mereka tunjukan.

Karena bagiku seorang pemimpin yang baik hanya mempunyai 2 pilihan pada saat dia diminta mempertanggung jawabkan kesalahan anak buahnya di depan publik, yaitu:
1. Membela anak buahnya
2. Menyalahkan dirinya sendiri

Pilihan lainnya seperti menyalahkan anak buahnya bukanlah sikap pemimpin yang bagus, dan berhubung pilihan ke-2 yaitu menyalahkan dirinya sendiri hanya bisa dilakukan oleh pemimpin dengan level yang sangat tinggi, jadi aku masi bisa menerima kalao pak Kapolri dan Jaksa Agung mengambil opsi yang pertama, nice choice!

Perkara apa yang dibela itu benar ato salah ak lagi ga tertarik untuk membahas, ak lebih menyoroti soal leadershipnya aja.

Kalo dibanding-bandingkan dengan kisah film, mungkin kejadian ini bisa dianalogikan dengan kejadian waktu Don Vito Corleone di film Godfather mendapat keluhan dari anak angkatnya Johnny Fontane yang tidak diperbolehkan mendapatkan peran di film yang dia idam-idamkan. Don Vito tau kalo yang salah adalah anaknya sendiri, dia memarahi si Johnny, mengatakan kalau dia itu perajuk, cengeng, tidak jantan, dll. Tapi setelah itu Don Vito tetap memperjuangkan keinginan Johnny, dia mengirimkan utusan terbaiknya untuk bernegosiasi dengan sang produser, "he make them an offer they can't refuse"

don vito corleone
Di film yang lain, yaitu Donnie Brasco, Al pacino tau kalo ternyata mafia yang direkrutnya, Donnie Brasco ( johnny depp ) ternyata adalah mata-mata polisi. Tapi dia tetap melindungi donnie, pura-pura ga tau dan kemudian bahkan memberinya kesempatan untuk kabur, dia lebih menyalahkan dirinya sendiri yang telah salah merekrut anggota. meskipun konsekuensi dari sikapnya ini membuat dia dihabisi oleh bos-bosnya.

Yah mungkin itu bukan contoh yang baik karena tokoh-tokohnya adalah gerombolan mafia italia hehehe . Contoh yang lebih baik dan terjadi di dunia nyata adalah waktu kedubes Australia dengan gigih membela warga negaranya yang diancam hukuman mati di Indonesia. Padahal tentu saja sang warga australia itu sudah jelas-jelas terbukti bersalah.

Terkadang semuanya bukan masalah benar atau salah, tetapi lebih ke tanggung jawab moral seorang yang telah diberi kepercayaaan untuk menjadi pemimpin.

Di lain pihak, aku merasa ada pemimpin lain yang punya kecenderungan selalu memanfaatkan anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri atau untuk diumpankan ke publik. Setelah dulu lepas tangan terhadap persiapan pemilu yang tidak maksimal dan menyerahkan sepenuhnya kepada KPU, menolak mengakui bahwa iklan pilpres 1 putaran yang tidak etis berasal dari dirinya, kali ini pak presiden kembali melakukan hal yang mirip-mirip.

Untuk menentukan sikapnya terhadap kisruh Polri-KPK-Kejaksaan, pak presiden membentuk tim 8 dan mengikuti rekomendasinya, seolah-olah itu adalah persiapan kalau-kalau nanti keputusannya salah dia bisa bilang "saya hanya mengikuti rekomendasi dari tim 8" sebuah sikap opurtinistik yang biasa diambil oleh orang-orang cerdas, sesuai julukannya "The Thinking General"

Padahal tanpa tim 8 pun aku yakin pak presiden tau apa yang sebenarnya terjadi, presiden gitu loh, informannya ada dimana-mana, sampai-sampai dia tau kalau wajahnya dijadikan sasaran tembak orang-orang edan di tempat yang terpencil sekalipun.

Untuk penghentian kasus bibit-chandra pun pak presiden ga mau mengeksekusi sendiri, dia menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian dan kejaksaan dengan alasan tidak ada koridor hukum yang dapat memfasilitasinya menjalankan eksekusi itu

Aku memang buta hukum, aku cuma warga biasa yang taunya presiden itu jabatan paling powerful di negeri ini, sampai-sampai dulu ada presiden yang bisa menguasai penuh TNI, Polri, DPR, MPR, bahkan ada yang mampu mengganti Undang-Undang Dasar '45 , jadi aku heran kalo presiden jaman sekarang ga mampu melakukan pekerjaan "sepele" seperti menghentikan penyidikan atas seseorang yang dituntut karena kurang tanda-tangan waktu menjalankan tugasnya.

Pada pidato terakhirnya, pak presiden juga menugaskan anak buahnya yang lain yaitu Bu Sri Mulyani untuk menjelaskan posisi pemerintah terhadap kasus Bank Century. Tentu saja waktu perumusan pengambilan keputusan bailout Cetury, presiden tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan ahli-ahli dan pakar-pakar ekonomi untuk merumuskan solusi yang terbaik. Tapi kalo untuk sekedar menjelaskan keputusan yang SUDAH diambil, kenapa harus anak buahnya lagi yang maju?

Apalagi kasus Bank Century sekarang bukan persoalan ekonomi semata, tapi udah masuk ke wilayah politik, terutama setelah diketahui bahwa Budi Sampurna, Hartati Mudaya yang bendahara partai demokrat itu bertindak sebagai nasabah besar Bank Century yang mendapatkan ganti rugi dalam jumlah yang tidak sedikit

Kalau Pak Presiden bisa menjelaskan sendiri permasalahan ini dengan baik pasti dia bisa kembali menjadi idola masayarakat. tapi sayangnya tidak...
Sekarang pers malah suka menjadikan sikap pak presiden jadi sebuah lelucon. seperti di harian Suara Merdeka yang menggambarkan kasus Polri-KPK seperti permainan bola, dioper kesana kemari, lama banget sampe masyarakatnya bosen sendiri denger berita ini terus

SBYkalo yang ini bukan Mr. President, tapi pak lurah Pigg Semarang Community yang sedang memberikan konsultasi ON Clinic gratis buat warganya

Labels: